Menjalani ASTS dengan Lebih Siap, Tips Belajar yang Bisa Dicoba Siswa SIT Widya Cendekia

Menjalani ASTS dengan Lebih Siap, Tips Belajar yang Bisa Dicoba Siswa SIT Widya Cendekia

SIT Widya CendekiaAsesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) merupakan salah satu tahapan penting yang membantu siswa mengukur sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari. Selama pelaksanaannya berlangsung, setiap siswa tentu menghadapi tantangan yang berbeda-beda. Ada yang merasa cukup siap menghadapi soal-soal berikutnya, namun ada pula yang masih perlu mengulang beberapa bagian materi yang belum sepenuhnya dipahami.

Di tengah rangkaian ASTS, belajar tetap perlu dilakukan dengan cara yang terarah. Persiapan menghadapi asesmen tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak materi yang dapat diingat. Kondisi fisik dan kesiapan emosi juga turut membantu siswa menjalani proses belajar dengan lebih optimal.

Dalam buku Tools for Study Skills: Teknik Ujian Efektif karya Femi Olivia, persiapan menghadapi ujian mencakup tiga aspek, yaitu persiapan intelektual, fisik, dan emosi. Ketiga aspek tersebut dapat menjadi panduan sederhana bagi siswa SIT Widya Cendekia untuk menjaga kesiapan selama masa ASTS.

  1. Memperkuat Pemahaman Materi

Persiapan intelektual berkaitan dengan penguasaan materi yang akan diujikan. Karena itu, belajar tidak harus selalu dilakukan dengan membaca seluruh materi dari awal. Siswa dapat memanfaatkan waktu yang tersedia untuk meninjau kembali bagian-bagian yang masih belum dikuasai.

Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu mengulang materi secara teratur dan bertahap. Mulailah dengan mengingat kembali istilah dan pengertian penting, kemudian pahami fakta yang berkaitan dengan materi tersebut. Setelah itu, coba hubungkan satu konsep dengan konsep lainnya agar materi tidak sekadar dihafalkan, tetapi benar-benar dipahami secara utuh mulai dari prinsip dasar hingga kemampuan menganalisis dan memecahkan soal. .

Latihan soal juga dapat membantu siswa mengenali bentuk pertanyaan dan mengukur pemahamannya. Jika menemukan soal yang belum dapat dijawab, jangan langsung merasa gagal. Jadikan bagian tersebut sebagai tanda bahwa materi itu masih perlu dipelajari kembali.

Dengan cara tersebut, waktu belajar dapat digunakan secara lebih terarah. Siswa dapat memusatkan perhatian pada materi yang memang masih membutuhkan pemahaman lebih lanjut.

  1. Menjaga Kondisi Fisik

Selama ASTS berlangsung, menjaga kondisi tubuh sama pentingnya dengan penguasaan materi. Padatnya jadwal asesmen terkadang membuat siswa ingin menggunakan seluruh waktu untuk belajar. Namun, memaksakan diri mempelajari banyak materi justru memicu tubuh kelelahan, keraguan, bahkan kecemasan yang menghambat proses belajar itu sendiri sehingga proses belajar menjadi kurang efektif.

Oleh karena itu, berikan tubuh waktu untuk beristirahat. Pastikan kebutuhan dasar seperti tidur, makan, minum, dan waktu jeda tetap terpenuhi. Tubuh yang sehat dan segar dapat membantu siswa mengikuti proses asesmen dengan lebih nyaman.

Belajar juga tidak harus dilakukan berjam-jam tanpa jeda. Siswa dapat membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi sehingga tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk beristirahat sebelum kembali mempelajari materi.

  1. Kelola Emosi dan Bangun Kepercayaan Diri

Selain pemahaman materi dan kondisi fisik, kesiapan emosi juga perlu diperhatikan. Riset yang dikutip dalam buku Femi Olivia bahkan menyebutkan bahwa keberhasilan menghadapi ujian sebagian besar dipengaruhi oleh faktor emosional, sementara faktor intelektual berperan lebih kecil apabila kondisi fisik sudah terpenuhi dengan baik.

Rasa cemas, gugup, atau takut salah dapat muncul ketika menghadapi asesmen, terutama ketika siswa merasa belum menguasai materi tertentu. Perasaan semaacam ini memecah konsentrasi. Materi yang sebenarnya sudah dipahami pun terkadang terasa lebih sulit ketika pikiran terlalu terfokus pada hasil yang akan diperoleh, bukan pada proses mengerjakan soal itu sendiri.

Oleh karena itu, siswa perlu membangun kepercayaan terhadap proses belajar yang sudah dijalani. Fokuskan perhatian pada soal yang sedang dikerjakan dan jangan terlalu memikirkan hasil sebelum seluruh proses selesai.

Jika merasa gugup, ambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Tarik napas dengan perlahan, baca kembali pertanyaan dengan teliti, kemudian kerjakan soal yang dapat dipahami terlebih dahulu. Setelah itu, lanjutkan pada soal yang membutuhkan waktu lebih banyak.

Belajar dengan Seimbang Selama ASTS

Masa ASTS dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengenali cara belajar yang paling sesuai dengan dirinya. Ada materi yang membutuhkan pengulangan, ada yang lebih mudah dipahami melalui latihan soal, dan ada pula yang justru membutuhkan waktu istirahat agar dapat diserap dengan lebih baik. Menjaga keseimbangan antara belajar, beristirahat, dan mengelola emosi menjadi kunci utama dalam menghadapi setiap tahapan asesmen dengan persiapan yang lebih matang.

Bagi siswa Widya Cendekia, proses belajar selama ASTS tidak hanya tentang memperoleh hasil asesmen. Setiap proses yang dijalani juga dapat menjadi latihan untuk membangun kebiasaan belajar yang teratur, menjaga tanggung jawab terhadap tugas, serta mengenali kemampuan diri.

ASTS masih berjalan. Masih ada kesempatan untuk terus belajar, memperbaiki pemahaman, dan menjaga kondisi diri. Tetap belajar dengan sungguh-sungguh, beristirahat dengan cukup, dan hadapi setiap asesmen dengan tenang. Semoga setiap usaha yang dilakukan selama masa ASTS memberikan hasil yang baik dan menjadi bagian dari perjalanan belajar siswa Widya Cendekia Kota Serang.

Sumber

Olivia, F. (2011). Tools for Study Skills: Teknik Ujian Efektif. PT Elex Media Komputindo.

Facebook
X
LinkedIn
Pinterest
Facebook
WhatsApp
Telegram
Print

yuk terbitkan artikelmu di website dan mading kami

ICT (Information Creativity and Technology) SIT WIDYA CENDEKIA © Copyright 2020. Last Updated 2026. All Rights Reserved.

Memaknai Hari PMI 2026, Menumbuhkan Semangat Kemanusiaan melalui PMR Widya Cendekia

Memaknai Hari PMI 2026, Menumbuhkan Semangat Kemanusiaan melalui PMR Widya Cendekia

SIT Widya CendekiaSetiap 17 September, Indonesia memperingati Hari Palang Merah Indonesia. Tahun ini, Palang Merah Indonesia (PMI) genap berusia 81 tahun dan mengusung tema “Peduli, Bergerak, Bersama”, yaitu sebuah ajakan yang menggambarkan tahapan kepedulian hingga menjadi aksi nyata. Peduli dimaknai sebagai upaya melihat, mendengar, dan merasakan kondisi sesama. Bergerak berarti mengubah kepedulian tersebut menjadi tindakan. Sementara itu, bersama menegaskan bahwa dampak yang lebih besar dapat tercipta melalui kolaborasi.

Tema tersebut menyiratkan satu hal penting, yaitu kepedulian bukanlah sesuatu yang cukup dirasakan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan dan diperkuat melalui kerja sama. Semangat kemanusiaan tentu tidak tumbuh dalam semalam. Oleh karena itu, nilai tersebut perlu dikenalkan sejak dini, dilatih secara berulang, hingga akhirnya menjadi kebiasaan.

Di Widya Cendekia Kota Serang, proses penanaman nilai itu berlangsung melalui kegiatan Palang Merah Remaja (PMR), yaitu wadah bagi siswa untuk belajar peka terhadap kondisi sesama, memahami cara menolong, serta menyiapkan diri menghadapi situasi darurat. Sebelum menengok lebih jauh kegiatan tersebut, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu perjalanan panjang organisasi yang hari ini kita peringati kelahirannya.

Perjalanan Berdirinya Palang Merah Indonesia

Gagasan untuk membentuk organisasi Palang Merah yang dikelola oleh bangsa Indonesia mulai diperjuangkan sejak 1932 oleh Dr. RCL Senduk dan Dr. Bahder Djohan. Meskipun demikian, gagasan tersebut sempat mengalami penolakan pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Pada akhirnya, kesempatan tersebut baru benar-benar terbuka setelah Indonesia merdeka.

Pada 3 September 1945, Presiden Soekarno menginstruksikan pembentukan badan Palang Merah Nasional. Instruksi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan Panitia Lima pada 5 September 1945. Setelah itu, Perhimpunan Palang Merah Indonesia resmi berdiri pada 17 September 1945 dengan Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua pertama. Dengan demikian, tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Palang Merah Indonesia.

Sejak berdiri, PMI menjalankan berbagai kegiatan kemanusiaan, seperti membantu korban bencana dan konflik, memberikan pelayanan darah, pelayanan kesehatan dan sosial, serta pendidikan dan pelatihan kepalangmerahan. Seluruh kegiatan tersebut berlandaskan Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, yaitu kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, dan kesemestaan.

Lebih dari sekadar mengenal sejarah dan peran PMI, peringatan Hari PMI juga dapat menjadi momentum untuk mengenalkan nilai-nilai kemanusiaan kepada generasi muda. Kepedulian terhadap sesama, kesukarelaan, kesiapsiagaan, dan kemauan untuk membantu merupakan nilai yang dapat ditanamkan melalui pengalaman sehari-hari.

Salah satu ruang untuk mengenalkan nilai tersebut kepada siswa adalah Palang Merah Remaja (PMR). Di lingkungan sekolah, PMR menjadi wadah bagi siswa untuk mempelajari kepalangmerahan sekaligus belajar menerapkan kepedulian melalui berbagai kegiatan.

Melatih Kepedulian melalui Aksi Nyata

Nilai-nilai tersebut kemudian diterapkan melalui kegiatan PMR Widya Cendekia Kota Serang. Setiap Jumat, anggota PMR mengikuti latihan rutin di sekolah untuk mendalami berbagai materi kepalangmerahan. Pembinaan tersebut kemudian diperkuat melalui Diklat PMR yang dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di Markas PMI Provinsi Banten.

Diklat tersebut dirancang untuk membekali siswa dengan keterampilan kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi bencana. Selama kegiatan, peserta memperoleh materi mengenai ruang lingkup PMI secara menyeluruh, yaitu mulai dari tugas dan fungsi organisasi, struktur keanggotaan, proses menjadi relawan, hingga berbagai kegiatan kemanusiaan yang pernah dijalankan. Di samping itu, siswa juga dikenalkan pada persoalan-persoalan nyata yang kerap dihadapi relawan di lapangan beserta solusi yang biasa ditempuh untuk mengatasinya.

Materi tersebut kemudian diuji melalui praktik langsung berupa perlombaan Kesiapsiagaan Bencana. Perlombaan ini menjadi sarana untuk mengukur sejauh mana peserta memahami materi PMR yang selama ini telah dipelajari dalam latihan rutin di sekolah.

“Tujuannya untuk membekali keterampilan siswa dalam kesiapsiagaan ketika mengalami kondisi terjadinya bencana,” ujar Pembina PMR Widya Cendekia Kota Serang.

Lebih dari keterampilan teknis, sekolah juga menaruh harapan pada pembentukan karakter siswa melalui kegiatan ini.

“Kami harapkan dari kegiatan Diklat PMR ini peserta bisa lebih peka dan peduli terhadap sesama teman serta kondisi lingkungan sekitar, dan juga bisa menjadi siswa yang lebih disiplin dan siap siaga dalam kondisi apa pun,” lanjutnya.

Agar nilai kepedulian tersebut tidak berhenti sebagai teori, Widya Cendekia Kota Serang menghadirkan ruang penerapan yang nyata dalam keseharian siswa melalui program piket penjagaan UKS. Anggota PMR mendapat giliran bertugas secara berkala dan bergantian setiap hari, dengan tugas utama membantu teman-teman yang sakit atau mengalami luka di lingkungan sekolah.

Melalui program inilah siswa belajar bahwa menolong bukan sekadar kemampuan, melainkan kebiasaan. Mereka dilatih untuk tanggap ketika ada teman yang membutuhkan, disiplin dalam menjalankan tanggung jawab, serta terbiasa mengambil peran tanpa harus menunggu diminta.

Peringatan Hari PMI setiap 17 September menjadi pengingat bahwa kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Delapan puluh satu tahun perjalanan PMI menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan berawal dari kepekaan terhadap kondisi sesama. Kepekaan tersebut pun dapat ditumbuhkan dari ruang kelas, koridor sekolah, hingga meja UKS.

Semangat “Peduli, Bergerak, Bersama” tidak hanya hadir pada satu hari peringatan, melainkan tumbuh melalui pengalaman sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dari membantu teman di UKS hingga berlatih menghadapi kondisi bencana, siswa Widya Cendekia Kota Serang memiliki ruang untuk membangun karakter yang peduli, disiplin, dan siap membantu sesama.

Sumber

Palang Merah Indonesia. (n.d.). Sejarah. https://www.pmi.or.id/about-us/history

detikNews. (2026). Tema dan logo HUT ke-81 PMI hingga rangkaian peringatannya. https://news.detik.com/berita/d-8661824/tema-dan-logo-hut-ke-81-pmi-hingga-rangkaian-peringatannya

detikKalimantan. (2026). Kapan Hari Palang Merah Indonesia, 3 atau 17 September? Ini jawabannya. https://www.detik.com/kalimantan/berita/d-8661492/kapan-hari-palang-merah-indonesia-3-atau-17-september-ini-jawabannya

Facebook
X
LinkedIn
Pinterest
Facebook
WhatsApp
Telegram
Print

yuk terbitkan artikelmu di website dan mading kami

ICT (Information Creativity and Technology) SIT WIDYA CENDEKIA © Copyright 2020. Last Updated 2026. All Rights Reserved.